
Akademisi asal Pegunungan Bintang Melkior Ngalumsine Sitokdana tampak kedua tangan memegang dua Buah buku tentang sosial-Budaya Suku OkMek. karyanya yang diterbitkan tahun 2018 silam. Dok/suarapapua.
(JAYAPURA, BATASPAPUA)— Dalam Keterangan Pers yang diterima redaksi Bataspapua.com Akademisi sekaligus Peneliti Sosial, Budaya dan E-government Papua Melkior Ngalumsine Sitokdana S.Kom, M.Eng Dosen Universitas Kristen Satya wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah resmi luncurkan website okmekfamly.com sebagai bagian dari dedikasinya untuk mengarsipkan penelitian, artikel, jurnal tentang sosial dan budaya suku Bangsa Ok-Mek-Min dalam bentuk digital.
Situs okmekfamly.com resmi diluncurkan sebagai platform yang mengumpulkan dan mempublikasikan buku serta artikel terkait etnografi dan sejarah awal peradaban modern masyarakat suku bangsa Ok dan Mek. Kehadiran platform ini diharapkan menjadi upaya penting dalam melestarikan kekayaan budaya dan sejarah masyarakat yang menghuni poros Pulau Papua.
Melkior NN Sitokdana, pendiri website ini sekaligus peneliti dan dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, UKSW menyatakan bahwa situs Okmek Family ini bertujuan untuk menjadi sumber informasi yang komprehensif bagi peneliti, akademisi, dan masyarakat umum. “Kami ingin menjadikan Okmek Family sebagai arsip dan pusat pengetahuan digital yang menghubungkan masyarakat Papua dengan dunia luar. Melalui platform ini, kami berharap dapat memperkenalkan kekayaan budaya dan sejarah suku Ok dan Mek kepada publik yang lebih luas lewat platform ini,” ungkap Melkior dalam pernyataannya.

Beranda Situs okmekfamly.com
Website ini berfokus pada dokumentasi yang terstruktur dan berbasis penelitian, memungkinkan pengunjung memahami aspek kehidupan sehari-hari, tradisi, sistem sosial, serta tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat Papua khusus suku Ok dan Mek. “Pengetahuan yang kami sajikan tidak hanya penting bagi peneliti, tetapi juga bagi masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih banyak tentang kehidupan budaya yang kaya di Papua,” katanya.
Istilah “manusia Ok” pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Healey pada tahun 1964, yang membagi suku-suku di wilayah Pegunungan Bintang dan Papua New Guinea dalam tiga kategori utama. Pertama, Mountain Ok, mencakup daerah seperti Bimin, Setaman, Faiwol, Telefomin, Uropmin, Tifalmin, Mianmin, Atbalmin, Fefolmin, dan Oksapmin di Papua New Guinea. Kedua, Lowland Ok, meliputi suku-suku di Iwur, Yonggom, North Muyu, South Muyu, dan Ningrum. Ketiga, Ngalum Branch, khusus untuk suku Ngalum yang menetap di Pegunungan Bintang, Papua.
Kelompok Mek yang dikategorikan oleh ahli bahasa Stephen Wurm pada tahun 1975 dan Heeschen tahun 1998 dibagi berdasarkan bahasa dan dialek. Subkelompok ini termasuk Eastern Ketengban yang mencakup bahasa Bame, Omban, Bime, Ony, Una (Goliath), dan Eipomek; Northern, yang meliputi bahasa Kosarek, Yali, Nipsan, dan Nalca; serta Western, yang mencakup bahasa Korupun, Sela, Dagi, Sisibna, dan Deibula. Selain itu, suku-suku lain seperti Arimtap, Kimki, Lepki, dan Yetfa juga menjadi bagian integral dari komunitas lokal yang terdokumentasi di platform ini.

Nama Ok dan Me/Mek secara harfiah berarti air, kali atau sungai, namun memiliki makna filosofis yang mendalam, menggambarkan aspek kehidupan ekologis, sosiologis, ekonomis dan religius masyarakat setempat.
Dengan kehadiran Okmek Family, Melkior berharap agar platform ini menjadi wadah yang efektif untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan warisan budaya serta sejarah masyarakat suku Ok dan Mek.
“Kami percaya bahwa dengan menyediakan materi yang relevan dan berbasis penelitian, masyarakat luas dapat lebih terlibat dalam upaya pelestarian budaya yang sangat berharga ini,” tutup Melkior.
Platform ini juga sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat Papua dan dunia luar untuk membangun pemahaman yang lebih dalam tentang kekayaan budayanya. (*)
Admin/Redaksi
Tidak ada komentar