Plt. Dinas Pendidikan Pegubin Hengki Bidana: “Kampus UOP Sebagai Aset Orang Pegunungan Bintang Yang Harus Jaga Bersama”

waktu baca 2 menit
Rabu, 2 Sep 2026 01:56 0 76 WartaBatas

Plt. Dinas Pendidikan dan kearsipan daerah Kabupaten Pegubin Hengki Bidana, S. Sos., M. Sos, (01/09/26) btp. 

(OKSIBIL,BATASPAPUA.COM)—Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang, Hengki Bidana, S.Sos., M.Sos., disela-sela Kegiatan PKKMB UOP ia menegaskan bahwa Universitas Okmin Papua adalah salah satu aset penting masyarakat Pegunungan Bintang yang harus kita jaga bersama.

“Universitas ini adalah satu-satunya aset milik orang Pegunungan Bintang, aset suku bangsa Ok, Mek, dan Min. Kampus ini bukan milik bupati, bukan milik orang Oksibil, dan bukan milik orang Kiwirok. Tapi Kampus ini adalah aset milik orang Pegunungan Bintang,” tegas Hengki.

Baca Juga :  Sukacita Ribuan Masyarakat Pegubin Sambut Kedatangan Wakil Bupati Kris bakweng Uropmabin

Ia juga menyampaikan bahwa UOP merupakan perguruan tinggi yang telah terdaftar secara resmi di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI).

“Kampus ini resmi terdaftar di DIKTI. Jadi, ijazah yang dikeluarkan di UGM, UI, Uncen, itu sama juga yang dikeluarkan di kampus ini,” ujarnya.

Hengki mengajak mahasiswa baru untuk tidak memandang pengetahuan hanya berasal dari luar daerah. Menurutnya, Pegunungan Bintang memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang perlu digali, dikembangkan, dan dipelajari secara akademis. Selama ini kita berpikir bahwa pengetahuan terbaik ada di luar sana, di Jayapura, di Jawa, atau di Amerika. Tetapi kita harus sadar bahwa pengetahuan terbaik juga ada di sini. Ia mencontohkan pengetahuan masyarakat lokal mengenai petatas (boneng), keladi (om), babi (kang), hingga berbagai keterampilan dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur.

Baca Juga :  Catatan Reflektif, Memperingati HUT Kabupaten Pegunungan Bintang Yang Ke 21 Tahun 2024

“Bagaimana supaya anak tumbuh sehat, bagaimana membangun mental yang baik, bagaimana berburu dengan baik, bagaimana perempuan merajut noken, semua itu merupakan pengetahuan yang kita miliki dan perlu kita gali bersama melalui Universitas ini,” jelas Hengki.

Menurutnya, keberadaan UOP di Pegunungan Bintang diharapkan dapat menjadi ruang akademik untuk mengembangkan pengetahuan lokal dan mengkaji kekayaan antropologi serta kebudayaan masyarakat setempat.

“Kita akan menggali potensi pengetahuan kita tentang antropologi orang Pegunungan Bintang. Ada empat suku yang kami petakan dalam kajian pemetaan wilayah kebudayaan orang Pegunungan Bintang yaitu 17 komunitas masyarakat adat. Tahun depan kita akan melakukan pemetaan di wilayah Mek dan Sofker,” kata Hengki. (***)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *